GISTECHINDO: global
  • About
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Pasang Iklan
  • Follow DuniaKompi
GISTECHINDO

  • SEO
  • Desain
  • Templates
  • AdSense
  • Tutorial
    • Membuat Blog
    • Ganti Template
    • Kode Warna
    • Tag Kondisional
    • Awesome Font
  • Layanan Premium
  • Blog Tools
    • Parse HTML
    • CSS Compressor
    • Image Optimizer
    • HTML Compressor
  • Galeri Template
MENU
Home » Posts filed under global
Artikel merupakan nyawa bagi para blogger oleh karena itu, kita harus membuat artikel yang disenangi oleh para pembaca. Dengan membuat arikel yang bagus dapat meningkatkan trafick pada blog kita sebagai blogger. sebagai blogger pemula berikut ini adalah cara sukses atau kunci sukses bikin artikel yang disukai oleh pembaca

.


Nilai tertinggi dari suatu karya tulis adalah kepuasan pembaca. Untuk itu mendapatkan kepuasaan pembaca adalah hal yang ingin dilakukan oleh semua penulis. Tapi apakah itu sulit? Berikut adalah beberapa tips agar pembaca menyukai karya tulis kita.

1. Percaya Diri  
Kalau kita sudah nggak yakin dengan kemampuan tulisan kita, apakah bisa kita berkreasi dengan tulisan kita? Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan supaya menjadi penulis (blogger) yang disukai pembaca adalah dengan menjadi percaya diri.  
2. Menulis Seperti Berbicara Kepada Seseorang   
Enakan mana, komunikasi dengan menulis atau dengan berbicara langsung? Good, enakan berbicara dong. Untuk itu ketika menulis konten usahakan menulis seperti berbicara kepada seseorang. Nah caranya sebagai berikut:   
  • Gunakan kalimat sapaan yang menarik, misalnya: sobat, mas, mbak, bro, agan atau kira-kira semacam itulah. Pokoknya intinya untuk membuat kita menjadi lebih akrab dengan pembaca. 
  • Menulis dengan gaya bahasa pembaca kita. Kenapa dengan gaya bahasa pembaca, karena kan yang utama dari sebuah blog adalah kepuasan pembaca bukan penulisnya, untuk itu kita harus menulis dengan gaya bahasa yang disukai oleh pembaca kita. Di sinilah arti pentingnya tema dan target pembaca yang kita bidik dan susun di awal pembuatan sebuah blog. 
  • Gunakan improvisasi dalam menulis. Bukan hanya berbicara yang butuh improvisasi, menulis juga butuh improviasi. Misalya ketika kita menulis buatlah artikel itu seperti kita berbicara, tentunya harus ada jeda, harus ada tanda baca yang baik dan lainnya. 
3. Gunakan Kalimat Informatif, Aktif, Sederhana dan Mudah Dipahami  
Kalimat adalah bahasa blogging, menurut Raditya Dika dan penulis-penulis terkenal lainnya, ketika kita menulis kita   harus menggunakan kalimat aktif dan sebisa mungkin mengurangi kalimat pasif. Misalnya:  "bola itu ditendangi Dani", kita harus mengubahnya menjadi kalimat aktif menjadi "Dani menendang bola itu". Jika tidak percaya, silakan sobat coba baca buku-buku dari penulis-penulis terkenal dan profesional, bisa kita lihat kalau mereka selalu mencoba menggunakan kalimat aktif.  Selain itu, kita harus ingat jika tidak semua pembaca yang datang ke blog kita adalah kalangan pintar dan cerdas dalam bidang yang kita bahas, misalnya: kita membahas dalam tema web developing atau pengembangan web, usahakan selalau menggunakan bahasa umum yang bisa dipahami kalangan awam agar mereka bisa memahami apa yang kita bahas. Jadi, gunakan bahasa umum yang mudah dipahami.  

4. Tambahkan Bumbu Humor Dalam Setiap Posting  
Blogger biasanya cukup dikenal karena kepiawaiaanya memberi humor, baik lewat postingannya atau lewat berbicara langsung. Namun kita nggak perlu kuatir nggak bisa membari humor atau membuat pengunjung 
tertawa terbahak-bahak, minimal buatlah pembaca kita jadi tersenyum. Soal humornya bisa kita pelajari dengan berbagai cara, misalnya banyak baca ke blog temen-temen yang punya skill humor yang baik, lalu kita aplikasikan dan coba direalisasikan di blog kita. Lama kelamaan pasti bisa.  

5. Gunakan Gaya Menulis Anda Sendiri 
Dalam blogging tidak aturan resmi yang mengatur bahwa artikel yang ditulis harus menggunakan bahasa baku dan resmi, dan bahkan Anda justru dituntut untuk bisa memiliki gaya tersendiri. Misalnya Raditya Dika dengan gaya hiperbolisnya. Tentunya pasti jadi lebih menarik jika Anda punya gaya menulis sendiri dalam kegiatan blogging. Semua terserah Anda yangpenting pembaca mengerti dan menyukai tulisan Anda.   
20   
6. Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri 
Yup, otak kanan harus diutamakan dalam membuat sebuah tulisan. Mengapa? Jika selalu mengutamakan otak kiri maka kita akan banyak sekali melakukan analisa dan teori mengenai apa yang kita tulis. Dan coba bayangkan jika kita sedikit cuek dan menulis seperti air yang mengalir. Setelah selesai baru kita edit seperlunya. 
Ingat : Tulis Apa Yang Ada di Kepala Kita, Apalagi Jika Idenya Udah Nggak Nahan

7. Gunakan Sudut Pandang yang Jelas  
Pembaca umumnya menyukai penulis yang selalu menggunakan sudut pandang dalam setiap tulisannya. Maksudnya ketika kita membuat karya tulis, kita harus jelas berada di pihak siapa? Misalnya Anda ada dipihak pencerita dari sebuah kejadian atau Anda merupakan tokoh utamanya dan lain sebagainya. Ingat : Jelas.  

8. Tulis Apa yang Anda Sukai dan Kuasai  
Menulis sesuatu yang tidak Anda pahami artinya sama saja “bunuh diri” maka jangan pernah ya. Namun jika sebaliknya Anda menulis yang Anda sukai (apalagi kuasai) akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Untuk itu cobalah untuk selalu menulis dari apa yang Anda sukai. Jika Anda menyukainya maka pembaca kemungkinan juga akan menyukainya.

9. Menulis Secara Efektif   
Menulis efektif sudah menjadi suatu nilai tambah bagi kita sebagai penulis. Mengapa menjadi nilai tambah? Karena yang efektif itu pasti menghasilkan yang baik. Untuk itu menulislah secara efektif pada setiap karya tulis Anda.  
KANG GAWE August 21, 2014 DK Blogger Indonesia
thumbnail

Kunci Sukses Bikin Artikel Disukai Pembaca

Posted by KANG GAWE on Aug 21, 2014

Artikel merupakan nyawa bagi para blogger oleh karena itu, kita harus membuat artikel yang disenangi oleh para pembaca. Dengan membuat arikel yang bagus dapat meningkatkan trafick pada blog kita sebagai blogger. sebagai blogger pemula berikut ini adalah cara sukses atau kunci sukses bikin artikel yang disukai oleh pembaca

.


Nilai tertinggi dari suatu karya tulis adalah kepuasan pembaca. Untuk itu mendapatkan kepuasaan pembaca adalah hal yang ingin dilakukan oleh semua penulis. Tapi apakah itu sulit? Berikut adalah beberapa tips agar pembaca menyukai karya tulis kita.

1. Percaya Diri  
Kalau kita sudah nggak yakin dengan kemampuan tulisan kita, apakah bisa kita berkreasi dengan tulisan kita? Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan supaya menjadi penulis (blogger) yang disukai pembaca adalah dengan menjadi percaya diri.  
2. Menulis Seperti Berbicara Kepada Seseorang   
Enakan mana, komunikasi dengan menulis atau dengan berbicara langsung? Good, enakan berbicara dong. Untuk itu ketika menulis konten usahakan menulis seperti berbicara kepada seseorang. Nah caranya sebagai berikut:   
  • Gunakan kalimat sapaan yang menarik, misalnya: sobat, mas, mbak, bro, agan atau kira-kira semacam itulah. Pokoknya intinya untuk membuat kita menjadi lebih akrab dengan pembaca. 
  • Menulis dengan gaya bahasa pembaca kita. Kenapa dengan gaya bahasa pembaca, karena kan yang utama dari sebuah blog adalah kepuasan pembaca bukan penulisnya, untuk itu kita harus menulis dengan gaya bahasa yang disukai oleh pembaca kita. Di sinilah arti pentingnya tema dan target pembaca yang kita bidik dan susun di awal pembuatan sebuah blog. 
  • Gunakan improvisasi dalam menulis. Bukan hanya berbicara yang butuh improvisasi, menulis juga butuh improviasi. Misalya ketika kita menulis buatlah artikel itu seperti kita berbicara, tentunya harus ada jeda, harus ada tanda baca yang baik dan lainnya. 
3. Gunakan Kalimat Informatif, Aktif, Sederhana dan Mudah Dipahami  
Kalimat adalah bahasa blogging, menurut Raditya Dika dan penulis-penulis terkenal lainnya, ketika kita menulis kita   harus menggunakan kalimat aktif dan sebisa mungkin mengurangi kalimat pasif. Misalnya:  "bola itu ditendangi Dani", kita harus mengubahnya menjadi kalimat aktif menjadi "Dani menendang bola itu". Jika tidak percaya, silakan sobat coba baca buku-buku dari penulis-penulis terkenal dan profesional, bisa kita lihat kalau mereka selalu mencoba menggunakan kalimat aktif.  Selain itu, kita harus ingat jika tidak semua pembaca yang datang ke blog kita adalah kalangan pintar dan cerdas dalam bidang yang kita bahas, misalnya: kita membahas dalam tema web developing atau pengembangan web, usahakan selalau menggunakan bahasa umum yang bisa dipahami kalangan awam agar mereka bisa memahami apa yang kita bahas. Jadi, gunakan bahasa umum yang mudah dipahami.  

4. Tambahkan Bumbu Humor Dalam Setiap Posting  
Blogger biasanya cukup dikenal karena kepiawaiaanya memberi humor, baik lewat postingannya atau lewat berbicara langsung. Namun kita nggak perlu kuatir nggak bisa membari humor atau membuat pengunjung 
tertawa terbahak-bahak, minimal buatlah pembaca kita jadi tersenyum. Soal humornya bisa kita pelajari dengan berbagai cara, misalnya banyak baca ke blog temen-temen yang punya skill humor yang baik, lalu kita aplikasikan dan coba direalisasikan di blog kita. Lama kelamaan pasti bisa.  

5. Gunakan Gaya Menulis Anda Sendiri 
Dalam blogging tidak aturan resmi yang mengatur bahwa artikel yang ditulis harus menggunakan bahasa baku dan resmi, dan bahkan Anda justru dituntut untuk bisa memiliki gaya tersendiri. Misalnya Raditya Dika dengan gaya hiperbolisnya. Tentunya pasti jadi lebih menarik jika Anda punya gaya menulis sendiri dalam kegiatan blogging. Semua terserah Anda yangpenting pembaca mengerti dan menyukai tulisan Anda.   
20   
6. Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri 
Yup, otak kanan harus diutamakan dalam membuat sebuah tulisan. Mengapa? Jika selalu mengutamakan otak kiri maka kita akan banyak sekali melakukan analisa dan teori mengenai apa yang kita tulis. Dan coba bayangkan jika kita sedikit cuek dan menulis seperti air yang mengalir. Setelah selesai baru kita edit seperlunya. 
Ingat : Tulis Apa Yang Ada di Kepala Kita, Apalagi Jika Idenya Udah Nggak Nahan

7. Gunakan Sudut Pandang yang Jelas  
Pembaca umumnya menyukai penulis yang selalu menggunakan sudut pandang dalam setiap tulisannya. Maksudnya ketika kita membuat karya tulis, kita harus jelas berada di pihak siapa? Misalnya Anda ada dipihak pencerita dari sebuah kejadian atau Anda merupakan tokoh utamanya dan lain sebagainya. Ingat : Jelas.  

8. Tulis Apa yang Anda Sukai dan Kuasai  
Menulis sesuatu yang tidak Anda pahami artinya sama saja “bunuh diri” maka jangan pernah ya. Namun jika sebaliknya Anda menulis yang Anda sukai (apalagi kuasai) akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Untuk itu cobalah untuk selalu menulis dari apa yang Anda sukai. Jika Anda menyukainya maka pembaca kemungkinan juga akan menyukainya.

9. Menulis Secara Efektif   
Menulis efektif sudah menjadi suatu nilai tambah bagi kita sebagai penulis. Mengapa menjadi nilai tambah? Karena yang efektif itu pasti menghasilkan yang baik. Untuk itu menulislah secara efektif pada setiap karya tulis Anda.  
Dunia Komputer
GISTECHINDO Updated at: August 21, 2014
Membuat suatu karya tulis adalah hal yang mudah jika kita mau melakukannya, tidak diperlukan banyak pengetahuan mengenai apa yang akan ditulis yang diperlukan hanyalah perasaan dan imajinasi kita saat menulis. Berikut beberapa ini beberapa langkah umum untuk membuat sebuah karya tulis, semoga bisa membantu untuk mulai menciptakan sebuah karya tulis. berikut ini adalah Langkah-Langkah Membuat Karya Tulis


Langkah-Langkah Membuat Karya Tulis
jadikan indonesia  sebagai bangsa yang suka menulis dan membaca


1. Yang pertama kita harus menentukan Tema dari Karya Tulis yang kita Buat. 

Hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat suatu karya tulis adalah dengan menentukan tema.

2. Membuat Kerangka Karangan 

Untuk mempermudah kerja kita, cara yang menarik adalah dengan membuat kerangka karangan. jadi, silahkan buat kerangka karangan mengenai apa yang ingin Sobat tulis.  

3. Mengumpulkan Informasi serta Bahan-bahan Mengenai Apa yang Akan kita Tulis 

Setelah tersusun kerangka karangannya, tugas kita adalah mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk bisa membuat suatu karya tulis. Kumpulkan semua bahan, lalu segera masuk ke tahap utama, yaitu menulis karya tulis. 

4. Mulai Menulis 

Jika semua sudah lengkap, maka silahkan Sobat mulai menulis. Menulisnya tidak perlu buru-buru dan jangan takut salah. Pada proses ini Sobat bisa menulis apa yang ada di pikiran Sobat sekalian. Jadi santai aja mas broo..

5. Editing  

Ini adalah tahap setelah proses penulisan. Proses editing harus dilakukan setelah tulisan draft kita selesai. Tahap ini kita akan mencermati mengenai tulisan kita. Apakah sudah baik ejaannya, kalimatnya sudah baik dan lain sebagainya. Silahkan edit sebaik mungkin agar karya yang dihasilkan bisa memuaskan, Selain itu dalam mengedit suatu karya tulis kita harus menilainya dari sudut pandang pembaca.

6. Publish / Terbitkan

Ini adalah tahap terakhir. Jika sudah dirasa cukup baik dan menarik silahkan Anda publish karya Anda. Untuk publishnya bisa melalui banyak cara, misalnya lewat blog atau dipajang di majalah dinding dan lainnya.  Kiranya begitulah proses menghasilkan sebuah karya tulis. Tentunya tidak harus sama persis karena setiap orang punya kebiasaan dan gaya masing-masing. Enjoy…

Antusias dalam Membuat Karya Tulis
antusiasnya oarang ini nulisa

Pendukung Dalam Menulis Karya Tulis  

Dalam menulis kita memerlukan sebuah skill dan ide, skill dan ide dalam membuat suatu karya tulis merupakan hal yang sangat mudah hilang, jika kita tidak merawatnya. Untuk merawatnya sangatlah mudah, mau tau caranya?, nih ane kasih beberapa cara dari sekian banyaknya cara.langsung saja .,,,,, .... cekidot  ... 

>>Rajin MEMBACA dan MENULIS 

Yups, dengan membaca bukan cuma menambah pengetahuan. Membaca juga bisa meningkatkan skill menulis kita lho. 
Contoh 
Seorang yang suka dan sering makan kue pasti pernah bertanya, “hmm.. gimana cara bikin kue enak gini?”. Dari pertanyaan itu dia mulai mencari jawaban, hingga akhirnya tertarik untuk mencoba membuat kue. 
Dari contoh itu, kita bisa pahami jika kita rajin membaca maka pasti kita akan tertarik untuk membuat karya tulis. Selain itu rajin membaca juga akan menambah kosa kata. Jadi bahasa yang kita gunakan dalam menulis sesuatu atau berkomunikasi juga pasti akan bertambah dan pastinya kualitas komunikasi yang dihasilkan juga akan lebih baiik.  
        
          Rumus
Banyak Membaca = Banyak Ide = Banyak Menulis   

>>Berdiskusi Dengan Orang Lain 

Bebicara ke orang lain itu membutuhkan pengelolaan kalimat yang baik lho. Tak hanya itu, berdiskusi/berbicara ke orang lain juga membutuhkan analisa dan skill membaca sudut pandang yang baik. Denga rajin berdiskusi akan meningkatkan kemampuan analisa kita terhadap suatu sudut pandang sehingga kemampuan kita dalam menulis akan meningkat. Dan satu lagi, diskusi juga bisa menghasilkan ide untuk menulis lho. 

>>Liburan 

Siapa sih yang nggak suka liburan? Taukah Anda jika liburan juga  bisa mendukung kreativitas kita untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Misalnya ketika SD dulu, saat guru memberi tugas membuat karangan pasti banyak  sekali anak-anak  yang mengambil tema tentang liburan. Oke, jadi setiap Anda liburan jangan lupa untuk membawa notebook atau sekedar kertas dan pena. Silahkan Anda menikmati asyiknya liburan dan siapa tau ada ide atau kreativitas yang datang . 

>>Mengamati Peristiwa 

Setiap hari pastinya banyak kejadian dan peristiwa yang kita alami. Sedikit saja kita coba untuk lebih detail dan menerung sejenak dari peristiwa yang kita lihat atau alami. Mengamati berarti ‘mencerna’ dengan pikiran, bukan hanya melihat lalu melupakannya. Sedikit fokus dan berpikir, itu berdampak terhadap kemampuan kita untuk mengembangkannya dalam bentuk tulisan yang jelas dan mendalam. Apapun peritiwanya, kalau memang kita mengalami atau melihatsendiri, mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan akan lebih mudah. Itu pasti.

>>Rajin Berimajinasi 

Buat para penulis fiksi imajinasi hukumnya WAJIB. Tanpa imajinasi suatu karya fiksi pasti nggak bakal jadi. Meskipun begitu, bukan berarti penulis non fiksi tidak butuh imajinasi. Semua orang pasti suka jika diajak berimajinasi. Untuk itu rajinlah berimajinasi dan saat berimajinasi jangan lupa ditulis hal pentingnya.
KANG GAWE August 20, 2014 DK Blogger Indonesia
thumbnail

Langkah-Langkah Membuat Karya Tulis

Posted by KANG GAWE on Aug 20, 2014

Membuat suatu karya tulis adalah hal yang mudah jika kita mau melakukannya, tidak diperlukan banyak pengetahuan mengenai apa yang akan ditulis yang diperlukan hanyalah perasaan dan imajinasi kita saat menulis. Berikut beberapa ini beberapa langkah umum untuk membuat sebuah karya tulis, semoga bisa membantu untuk mulai menciptakan sebuah karya tulis. berikut ini adalah Langkah-Langkah Membuat Karya Tulis


Langkah-Langkah Membuat Karya Tulis
jadikan indonesia  sebagai bangsa yang suka menulis dan membaca


1. Yang pertama kita harus menentukan Tema dari Karya Tulis yang kita Buat. 

Hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat suatu karya tulis adalah dengan menentukan tema.

2. Membuat Kerangka Karangan 

Untuk mempermudah kerja kita, cara yang menarik adalah dengan membuat kerangka karangan. jadi, silahkan buat kerangka karangan mengenai apa yang ingin Sobat tulis.  

3. Mengumpulkan Informasi serta Bahan-bahan Mengenai Apa yang Akan kita Tulis 

Setelah tersusun kerangka karangannya, tugas kita adalah mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk bisa membuat suatu karya tulis. Kumpulkan semua bahan, lalu segera masuk ke tahap utama, yaitu menulis karya tulis. 

4. Mulai Menulis 

Jika semua sudah lengkap, maka silahkan Sobat mulai menulis. Menulisnya tidak perlu buru-buru dan jangan takut salah. Pada proses ini Sobat bisa menulis apa yang ada di pikiran Sobat sekalian. Jadi santai aja mas broo..

5. Editing  

Ini adalah tahap setelah proses penulisan. Proses editing harus dilakukan setelah tulisan draft kita selesai. Tahap ini kita akan mencermati mengenai tulisan kita. Apakah sudah baik ejaannya, kalimatnya sudah baik dan lain sebagainya. Silahkan edit sebaik mungkin agar karya yang dihasilkan bisa memuaskan, Selain itu dalam mengedit suatu karya tulis kita harus menilainya dari sudut pandang pembaca.

6. Publish / Terbitkan

Ini adalah tahap terakhir. Jika sudah dirasa cukup baik dan menarik silahkan Anda publish karya Anda. Untuk publishnya bisa melalui banyak cara, misalnya lewat blog atau dipajang di majalah dinding dan lainnya.  Kiranya begitulah proses menghasilkan sebuah karya tulis. Tentunya tidak harus sama persis karena setiap orang punya kebiasaan dan gaya masing-masing. Enjoy…

Antusias dalam Membuat Karya Tulis
antusiasnya oarang ini nulisa

Pendukung Dalam Menulis Karya Tulis  

Dalam menulis kita memerlukan sebuah skill dan ide, skill dan ide dalam membuat suatu karya tulis merupakan hal yang sangat mudah hilang, jika kita tidak merawatnya. Untuk merawatnya sangatlah mudah, mau tau caranya?, nih ane kasih beberapa cara dari sekian banyaknya cara.langsung saja .,,,,, .... cekidot  ... 

>>Rajin MEMBACA dan MENULIS 

Yups, dengan membaca bukan cuma menambah pengetahuan. Membaca juga bisa meningkatkan skill menulis kita lho. 
Contoh 
Seorang yang suka dan sering makan kue pasti pernah bertanya, “hmm.. gimana cara bikin kue enak gini?”. Dari pertanyaan itu dia mulai mencari jawaban, hingga akhirnya tertarik untuk mencoba membuat kue. 
Dari contoh itu, kita bisa pahami jika kita rajin membaca maka pasti kita akan tertarik untuk membuat karya tulis. Selain itu rajin membaca juga akan menambah kosa kata. Jadi bahasa yang kita gunakan dalam menulis sesuatu atau berkomunikasi juga pasti akan bertambah dan pastinya kualitas komunikasi yang dihasilkan juga akan lebih baiik.  
        
          Rumus
Banyak Membaca = Banyak Ide = Banyak Menulis   

>>Berdiskusi Dengan Orang Lain 

Bebicara ke orang lain itu membutuhkan pengelolaan kalimat yang baik lho. Tak hanya itu, berdiskusi/berbicara ke orang lain juga membutuhkan analisa dan skill membaca sudut pandang yang baik. Denga rajin berdiskusi akan meningkatkan kemampuan analisa kita terhadap suatu sudut pandang sehingga kemampuan kita dalam menulis akan meningkat. Dan satu lagi, diskusi juga bisa menghasilkan ide untuk menulis lho. 

>>Liburan 

Siapa sih yang nggak suka liburan? Taukah Anda jika liburan juga  bisa mendukung kreativitas kita untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Misalnya ketika SD dulu, saat guru memberi tugas membuat karangan pasti banyak  sekali anak-anak  yang mengambil tema tentang liburan. Oke, jadi setiap Anda liburan jangan lupa untuk membawa notebook atau sekedar kertas dan pena. Silahkan Anda menikmati asyiknya liburan dan siapa tau ada ide atau kreativitas yang datang . 

>>Mengamati Peristiwa 

Setiap hari pastinya banyak kejadian dan peristiwa yang kita alami. Sedikit saja kita coba untuk lebih detail dan menerung sejenak dari peristiwa yang kita lihat atau alami. Mengamati berarti ‘mencerna’ dengan pikiran, bukan hanya melihat lalu melupakannya. Sedikit fokus dan berpikir, itu berdampak terhadap kemampuan kita untuk mengembangkannya dalam bentuk tulisan yang jelas dan mendalam. Apapun peritiwanya, kalau memang kita mengalami atau melihatsendiri, mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan akan lebih mudah. Itu pasti.

>>Rajin Berimajinasi 

Buat para penulis fiksi imajinasi hukumnya WAJIB. Tanpa imajinasi suatu karya fiksi pasti nggak bakal jadi. Meskipun begitu, bukan berarti penulis non fiksi tidak butuh imajinasi. Semua orang pasti suka jika diajak berimajinasi. Untuk itu rajinlah berimajinasi dan saat berimajinasi jangan lupa ditulis hal pentingnya.
Dunia Komputer
GISTECHINDO Updated at: August 20, 2014
Lebih dari dua triliun ton es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sejak tahun 2003. Hasil pengukuran menggunakan data pengamatan satelit GRACE milik NASA itu menunjukkan bukti terbaru dampak dari pemanasan global.
"Antara Greenland, Antartika, dan Alaska, pencairan lapisan es telah meningkatkan air laut setinggi seperlima inci dalam lima tahun terakhir," kata Scott Luthcke, geofisikawan NASA.
Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya adalah es yang sebelumnya ada di Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.
Mencairnya es di daratan sebenarnya tak berpengaruh langsung terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia seperti mencairnya lautan beku. Pada tahun 1990-an, pencairan es di Greenland tidak menyebabkan peningkatan air laut yang berarti.
"Namun, saat ini Greenland turut meningkatkan setengah milimeter tingkat air laut per tahun," kata ilmuwan es NASA Jay Zwally. “Pencairan terus memburuk. Ini menunjukkan tanda yang kuat dari pencairan dan amplifikasi. Tidak ada perbaikan yang terjadi,” lanjut Zwally.
Para ilmuwan NASA mempresentasikan temuan baru mereka pada konferensi American Geophysical Union di San Fransisco minggu lalu. Dengan menganalisis perubahan iklim, secara umum para ilmuwan akan melihat yang terjadi beberapa tahun untuk menentukan tren secara keseluruhan.
http://kompas.com/read/xml/2008/12/29/16204469/lebih.dari.2.triliun.ton.es.kutub.mencair.
KANG GAWE July 21, 2010 DK Blogger Indonesia
thumbnail

Lebih dari 2 Triliun Ton Es Kutub Mencair

Posted by KANG GAWE on Jul 21, 2010

Lebih dari dua triliun ton es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sejak tahun 2003. Hasil pengukuran menggunakan data pengamatan satelit GRACE milik NASA itu menunjukkan bukti terbaru dampak dari pemanasan global.
"Antara Greenland, Antartika, dan Alaska, pencairan lapisan es telah meningkatkan air laut setinggi seperlima inci dalam lima tahun terakhir," kata Scott Luthcke, geofisikawan NASA.
Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya adalah es yang sebelumnya ada di Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.
Mencairnya es di daratan sebenarnya tak berpengaruh langsung terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia seperti mencairnya lautan beku. Pada tahun 1990-an, pencairan es di Greenland tidak menyebabkan peningkatan air laut yang berarti.
"Namun, saat ini Greenland turut meningkatkan setengah milimeter tingkat air laut per tahun," kata ilmuwan es NASA Jay Zwally. “Pencairan terus memburuk. Ini menunjukkan tanda yang kuat dari pencairan dan amplifikasi. Tidak ada perbaikan yang terjadi,” lanjut Zwally.
Para ilmuwan NASA mempresentasikan temuan baru mereka pada konferensi American Geophysical Union di San Fransisco minggu lalu. Dengan menganalisis perubahan iklim, secara umum para ilmuwan akan melihat yang terjadi beberapa tahun untuk menentukan tren secara keseluruhan.
http://kompas.com/read/xml/2008/12/29/16204469/lebih.dari.2.triliun.ton.es.kutub.mencair.
Dunia Komputer
GISTECHINDO Updated at: July 21, 2010

Pemanasan Global

Published On Tuesday, October 02, 2007
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.
Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.

Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir terhadap Kondisi Lingkungan Bio-geofisik dan Sosial-Ekonomi Masyarakat.

Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.
Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.
  • Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove ± 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya.
  • Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara.
  • Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantaranya adalah : (a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura Jawa dan Timur-Selatan Sumatera ; (b) genangan terhadap permukiman penduduk pada kota-kota pesisir yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua ; (c) hilangnya lahan-lahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, dan mangrove seluas 3,4 juta hektar atau setara dengan US$ 11,307 juta ; gambaran ini bahkan menjadi lebih ‘buram’ apabila dikaitkan dengan keberadaan sentra-sentra produksi pangan yang hanya berkisar 4 % saja dari keseluruhan luas wilayah nasional, dan (d) penurunan produktivitas lahan pada sentra-sentra pangan, seperti di DAS Citarum, Brantas, dan Saddang yang sangat krusial bagi kelangsungan swasembada pangan di Indonesia. Adapun daerah-daerah di Indonesia yang potensial terkena dampak kenaikan muka air laut diperlihatkan pada Gambar 1 berikut.
  • Terancam berkurangnya luasan kawasan pesisir dan bahkan hilangnya pulau-pulau kecil yang dapat mencapai angka 2000 hingga 4000 pulau, tergantung dari kenaikan muka air laut yang terjadi. Dengan asumsi kemunduran garis pantai sejauh 25 meter, pada akhir abad 2100 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 ha.
  • Bagi Indonesia, dampak kenaikan muka air laut dan banjir lebih diperparah dengan pengurangan luas hutan tropis yang cukup signifikan, baik akibat kebakaran maupun akibat penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown – International Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1997 – 1998 saja tidak kurang dari 1,7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan akibat pengaruh El Nino. Bahkan WWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar, yakni antara 2 hingga 3,5 juta hektar pada periode yang sama. Apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat maka kerusakan hutan – khususnya yang berfungsi lindung – akan menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu, meningkatkan resiko pendangkalan dan banjir pada wilayah hilir , serta memperluas kelangkaan air bersih pada jangka panjang.

Antisipasi Dampak Kenaikan Muka Air Laut dan Banjir melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

Dengan memperhatikan dampak pemanasan global yang memiliki skala nasional dan dimensi waktu yang berjangka panjang, maka keberadaan RTRWN menjadi sangat penting. Secara garis besar RTRWN yang telah ditetapkan aspek legalitasnya melalui PP No.47/1997 sebagai penjabaran pasal 20 dari UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang memuat arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang negara yang memperlihatkan adanya pola dan struktur wilayah nasional yang ingin dicapai pada masa yang akan datang.
Pola pemanfaatan ruang wilayah nasional memuat : (a) arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan lindung (termasuk kawasan rawan bencana seperti kawasan rawan gelombang pasang dan banjir) ; dan (b) arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan budidaya (hutan produksi, pertanian, pertambangan, pariwisata, permukiman, dsb). Sementara struktur pemanfaatan ruang wilayah nasional mencakup : (a) arahan pengembangan sistem permukiman nasional dan (b) arahan pengembangan sistem prasarana wilayah nasional (seperti jaringan transportasi, kelistrikan, sumber daya air, dan air baku.
Sesuai dengan dinamika pembangunan dan lingkungan strategis yang terus berubah, maka dirasakan adanya kebutuhan untuk mengkajiulang (review) materi pengaturan RTRWN (PP 47/1997) agar senantiasa dapat merespons isu-isu dan tuntutan pengembangan wilayah nasional ke depan. (mohon periksa Tabel 3 pada Lampiran). Oleh karenanya, pada saat ini Pemerintah tengah mengkajiulang RTRWN yang diselenggarakan dengan memperhatikan perubahan lingkungan strategis ataupun paradigma baru sebagai berikut :
  • globalisasi ekonomi dan implikasinya,
  • otonomi daerah dan implikasinya,
  • penanganan kawasan perbatasan antar negara dan sinkronisasinya,
  • pengembangan kemaritiman/sumber daya kelautan,
  • pengembangan kawasan tertinggal untuk pengentasan kemiskinan dan krisis ekonomi,
  • daur ulang hidrologi,
  • penanganan land subsidence,
  • pemanfaatan jalur ALKI untuk prosperity dan security, serta
  • pemanasan global dan berbagai dampaknya.
Dengan demikian, maka aspek kenaikan muka air laut dan banjir seyogyanya akan menjadi salah satu masukan yang signifikan bagi kebijakan dan strategi pengembangan wilayah nasional yang termuat didalam RTRWN khususnya bagi pengembangan kawasan pesisir mengingat : (a) besarnya konsentrasi penduduk yang menghuni kawasan pesisir khususnya pada kota-kota pantai, (b) besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kawasan pesisir, (c) pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang belum mencerminkan adanya sinergi antara kepentingan ekonomi dengan lingkungan, (d) tingginya konflik pemanfaatan ruang lintas sektor dan lintas wilayah, serta (e) belum terciptanya keterkaitan fungsional antara kawasan hulu dan hilir, yang cenderung merugikan kawasan pesisir.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ADB (1994), maka dampak kenaikan muka air laut dan banjir diperkirakan akan memberikan gangguan yang serius terhadap wilayah-wilayah seperti : Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pada pesisir Barat Papua
Untuk kawasan budidaya, maka perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk kota-kota pantai yang memiliki peran strategis bagi kawasan pesisir, yakni sebagai pusat pertumbuhan kawasan yang memberikan pelayanan ekonomi, sosial, dan pemerintahan bagi kawasan tersebut. Kota-kota pantai yang diperkirakan mengalami ancaman dari kenaikan muka air laut diantaranya adalah Lhokseumawe, Belawan, Bagansiapi-api, Batam, Kalianda, Jakarta, Tegal, Semarang, Surabaya, Singkawang, Ketapang, Makassar, Pare-Pare, Sinjai. (Selengkapnya mohon periksa Tabel 1 pada Lampiran).
Kawasan-kawasan fungsional yang perlu mendapatkan perhatian terkait dengan kenaikan muka air laut dan banjir meliputi 29 kawasan andalan, 11 kawasan tertentu, dan 19 kawasan tertinggal. (selengkapnya mohon periksa Tabel 2 pada Lampiran).
Perhatian khusus perlu diberikan dalam pengembangan arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan prasarana wilayah yang penting artinya bagi pengembangan perekonomian nasional, namun memiliki kerentanan terhadap dampak kenaikan muka air laut dan banjir, seperti :
  • sebagian ruas-ruas jalan Lintas Timur Sumatera (dari Lhokseumawe hingga Bandar Lampung sepanjang ± 1600 km) dan sebagian jalan Lintas Pantura Jawa (dari Jakarta hingga Surabaya sepanjang ± 900 km) serta sebagian Lintas Tengah Sulawesi (dari Pare-pare, Makassar hingga Bulukumba sepanjang ± 250 km).
  • beberapa pelabuhan strategis nasional, seperti Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Mas (Semarang), Pontianak, Tanjung Perak (Surabaya), serta pelabuhan Makassar.
  • Jaringan irigasi pada wilayah sentra pangan seperti Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur dan Sulawesi bagian Selatan.
  • Beberapa Bandara strategis seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Semarang.
Untuk kawasan lindung pada RTRWN, maka arahan kebijakan dan kriteria pola pengelolaan kawasan rawan bencana alam, suaka alam-margasatwa, pelestarian alam, dan kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, dan sungai) perlu dirumuskan untuk dapat mengantisipasi berbagai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi.
Selain antisipasi yang bersifat makro-strategis diatas, diperlukan pula antisipasi dampak kenaikan muka air laut dan banjir yang bersifat mikro-operasional. Pada tataran mikro, maka pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang direkomendasikan oleh IPCC (1990) sebagai berikut :
  • Relokasi ; alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan, perlu dipertimbangkan untuk menghindari sama sekali kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi.
  • Akomodasi ; alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.
  • Proteksi ; alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature”.
Sedangkan untuk kawasan lindung, prioritas penanganan perlu diberikan untuk sempadan pantai, sempadan sungai, mangrove, terumbu karang, suaka alam margasatwa/cagar alam/habitat flora-fauna, dan kawasan-kawasan yang sensitif secara ekologis atau memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan alam atau kawasan yang bermasalah. Untuk pulau-pulau kecil maka perlindungan perlu diberikan untuk pulau-pulau yang memiliki fungsi khusus, seperti tempat transit fauna, habitat flora dan fauna langka/dilindungi, kepentingan hankam, dan sebagainya.
Agar prinsip keterpaduan pengelolaan pembangunan kawasan pesisir benar-benar dapat diwujudkan, maka pelestarian kawasan lindung pada bagian hulu – khususnya hutan tropis - perlu pula mendapatkan perhatian. Hal ini penting agar laju pemanasan global dapat dikurangi, sekaligus mengurangi peningkatan skala dampak pada kawasan pesisir yang berada di kawasan hilir.

Kebutuhan Intervensi Kebijakan Penataan Ruang dalam rangka Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dalam kerangka kebijakan penataan ruang, maka RTRWN merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk dampak pemanasan global terhadap kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Namun demikian, selain penyiapan RTRWN ditempuh pula kebijakan untuk revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang yang berorientasi kepada pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tingkat kedalaman yang lebih rinci.
Intervensi kebijakan penataan ruang diatas pada dasarnya ditempuh untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut :
  • Mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada kawasan pesisir, termasuk kota-kota pantai dengan segenap penghuni dan kelengkapannya (prasarana dan sarana) sehingga fungsi-fungsi kawasan dan kota sebagai sumber pangan (source of nourishment) dapat tetap berlangsung.
  • Mengurangi kerentanan (vulnerability) dari kawasan pesisir dan para pemukimnya (inhabitants) dari ancaman kenaikan muka air laut, banjir, abrasi, dan ancaman alam (natural hazards) lainnya.
  • Mempertahankan berlangsungnya proses ekologis esensial sebagai sistem pendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati pada wilayah pesisir agar tetap lestari yang dicapai melalui keterpaduan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga ke hilir (integrated coastal zone management).
  • Untuk mendukung tercapainya upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang, maka diperlukan dukungan-dukungan, seperti : (a) penyiapan Pedoman dan Norma, Standar, Prosedur dan Manual (NSPM) untuk percepatan desentralisasi bidang penataan ruang ke daerah - khususnya untuk penataan ruang dan pengelolaan sumber daya kawasan pesisir/tepi air; (b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang, (c) sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public awareness campaig, (d) penyiapan dukungan sistem informasi dan database pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang memadai, serta (e) penyiapan peta-peta yang dapat digunakan sebagai alat mewujudkan keterpaduan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-kecil sekaligus menghindari terjadinya konflik lintas batas.
  • Selanjutnya, untuk dapat mengelola pembangunan kawasan pesisir secara efisien dan efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut :
  • Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir.
  • Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan.
  • Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
  • Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda - untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang ‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders.
KANG GAWE July 21, 2010 DK Blogger Indonesia
thumbnail

PEMANASAN GLOBAL

Posted by KANG GAWE on

Pemanasan Global

Published On Tuesday, October 02, 2007
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.
Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.

Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir terhadap Kondisi Lingkungan Bio-geofisik dan Sosial-Ekonomi Masyarakat.

Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.
Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.
  • Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove ± 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya.
  • Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara.
  • Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantaranya adalah : (a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura Jawa dan Timur-Selatan Sumatera ; (b) genangan terhadap permukiman penduduk pada kota-kota pesisir yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua ; (c) hilangnya lahan-lahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, dan mangrove seluas 3,4 juta hektar atau setara dengan US$ 11,307 juta ; gambaran ini bahkan menjadi lebih ‘buram’ apabila dikaitkan dengan keberadaan sentra-sentra produksi pangan yang hanya berkisar 4 % saja dari keseluruhan luas wilayah nasional, dan (d) penurunan produktivitas lahan pada sentra-sentra pangan, seperti di DAS Citarum, Brantas, dan Saddang yang sangat krusial bagi kelangsungan swasembada pangan di Indonesia. Adapun daerah-daerah di Indonesia yang potensial terkena dampak kenaikan muka air laut diperlihatkan pada Gambar 1 berikut.
  • Terancam berkurangnya luasan kawasan pesisir dan bahkan hilangnya pulau-pulau kecil yang dapat mencapai angka 2000 hingga 4000 pulau, tergantung dari kenaikan muka air laut yang terjadi. Dengan asumsi kemunduran garis pantai sejauh 25 meter, pada akhir abad 2100 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 ha.
  • Bagi Indonesia, dampak kenaikan muka air laut dan banjir lebih diperparah dengan pengurangan luas hutan tropis yang cukup signifikan, baik akibat kebakaran maupun akibat penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown – International Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1997 – 1998 saja tidak kurang dari 1,7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan akibat pengaruh El Nino. Bahkan WWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar, yakni antara 2 hingga 3,5 juta hektar pada periode yang sama. Apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat maka kerusakan hutan – khususnya yang berfungsi lindung – akan menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu, meningkatkan resiko pendangkalan dan banjir pada wilayah hilir , serta memperluas kelangkaan air bersih pada jangka panjang.

Antisipasi Dampak Kenaikan Muka Air Laut dan Banjir melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

Dengan memperhatikan dampak pemanasan global yang memiliki skala nasional dan dimensi waktu yang berjangka panjang, maka keberadaan RTRWN menjadi sangat penting. Secara garis besar RTRWN yang telah ditetapkan aspek legalitasnya melalui PP No.47/1997 sebagai penjabaran pasal 20 dari UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang memuat arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang negara yang memperlihatkan adanya pola dan struktur wilayah nasional yang ingin dicapai pada masa yang akan datang.
Pola pemanfaatan ruang wilayah nasional memuat : (a) arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan lindung (termasuk kawasan rawan bencana seperti kawasan rawan gelombang pasang dan banjir) ; dan (b) arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan budidaya (hutan produksi, pertanian, pertambangan, pariwisata, permukiman, dsb). Sementara struktur pemanfaatan ruang wilayah nasional mencakup : (a) arahan pengembangan sistem permukiman nasional dan (b) arahan pengembangan sistem prasarana wilayah nasional (seperti jaringan transportasi, kelistrikan, sumber daya air, dan air baku.
Sesuai dengan dinamika pembangunan dan lingkungan strategis yang terus berubah, maka dirasakan adanya kebutuhan untuk mengkajiulang (review) materi pengaturan RTRWN (PP 47/1997) agar senantiasa dapat merespons isu-isu dan tuntutan pengembangan wilayah nasional ke depan. (mohon periksa Tabel 3 pada Lampiran). Oleh karenanya, pada saat ini Pemerintah tengah mengkajiulang RTRWN yang diselenggarakan dengan memperhatikan perubahan lingkungan strategis ataupun paradigma baru sebagai berikut :
  • globalisasi ekonomi dan implikasinya,
  • otonomi daerah dan implikasinya,
  • penanganan kawasan perbatasan antar negara dan sinkronisasinya,
  • pengembangan kemaritiman/sumber daya kelautan,
  • pengembangan kawasan tertinggal untuk pengentasan kemiskinan dan krisis ekonomi,
  • daur ulang hidrologi,
  • penanganan land subsidence,
  • pemanfaatan jalur ALKI untuk prosperity dan security, serta
  • pemanasan global dan berbagai dampaknya.
Dengan demikian, maka aspek kenaikan muka air laut dan banjir seyogyanya akan menjadi salah satu masukan yang signifikan bagi kebijakan dan strategi pengembangan wilayah nasional yang termuat didalam RTRWN khususnya bagi pengembangan kawasan pesisir mengingat : (a) besarnya konsentrasi penduduk yang menghuni kawasan pesisir khususnya pada kota-kota pantai, (b) besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kawasan pesisir, (c) pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang belum mencerminkan adanya sinergi antara kepentingan ekonomi dengan lingkungan, (d) tingginya konflik pemanfaatan ruang lintas sektor dan lintas wilayah, serta (e) belum terciptanya keterkaitan fungsional antara kawasan hulu dan hilir, yang cenderung merugikan kawasan pesisir.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ADB (1994), maka dampak kenaikan muka air laut dan banjir diperkirakan akan memberikan gangguan yang serius terhadap wilayah-wilayah seperti : Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pada pesisir Barat Papua
Untuk kawasan budidaya, maka perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk kota-kota pantai yang memiliki peran strategis bagi kawasan pesisir, yakni sebagai pusat pertumbuhan kawasan yang memberikan pelayanan ekonomi, sosial, dan pemerintahan bagi kawasan tersebut. Kota-kota pantai yang diperkirakan mengalami ancaman dari kenaikan muka air laut diantaranya adalah Lhokseumawe, Belawan, Bagansiapi-api, Batam, Kalianda, Jakarta, Tegal, Semarang, Surabaya, Singkawang, Ketapang, Makassar, Pare-Pare, Sinjai. (Selengkapnya mohon periksa Tabel 1 pada Lampiran).
Kawasan-kawasan fungsional yang perlu mendapatkan perhatian terkait dengan kenaikan muka air laut dan banjir meliputi 29 kawasan andalan, 11 kawasan tertentu, dan 19 kawasan tertinggal. (selengkapnya mohon periksa Tabel 2 pada Lampiran).
Perhatian khusus perlu diberikan dalam pengembangan arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan prasarana wilayah yang penting artinya bagi pengembangan perekonomian nasional, namun memiliki kerentanan terhadap dampak kenaikan muka air laut dan banjir, seperti :
  • sebagian ruas-ruas jalan Lintas Timur Sumatera (dari Lhokseumawe hingga Bandar Lampung sepanjang ± 1600 km) dan sebagian jalan Lintas Pantura Jawa (dari Jakarta hingga Surabaya sepanjang ± 900 km) serta sebagian Lintas Tengah Sulawesi (dari Pare-pare, Makassar hingga Bulukumba sepanjang ± 250 km).
  • beberapa pelabuhan strategis nasional, seperti Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Mas (Semarang), Pontianak, Tanjung Perak (Surabaya), serta pelabuhan Makassar.
  • Jaringan irigasi pada wilayah sentra pangan seperti Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur dan Sulawesi bagian Selatan.
  • Beberapa Bandara strategis seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Semarang.
Untuk kawasan lindung pada RTRWN, maka arahan kebijakan dan kriteria pola pengelolaan kawasan rawan bencana alam, suaka alam-margasatwa, pelestarian alam, dan kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, dan sungai) perlu dirumuskan untuk dapat mengantisipasi berbagai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi.
Selain antisipasi yang bersifat makro-strategis diatas, diperlukan pula antisipasi dampak kenaikan muka air laut dan banjir yang bersifat mikro-operasional. Pada tataran mikro, maka pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang direkomendasikan oleh IPCC (1990) sebagai berikut :
  • Relokasi ; alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan, perlu dipertimbangkan untuk menghindari sama sekali kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi.
  • Akomodasi ; alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.
  • Proteksi ; alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature”.
Sedangkan untuk kawasan lindung, prioritas penanganan perlu diberikan untuk sempadan pantai, sempadan sungai, mangrove, terumbu karang, suaka alam margasatwa/cagar alam/habitat flora-fauna, dan kawasan-kawasan yang sensitif secara ekologis atau memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan alam atau kawasan yang bermasalah. Untuk pulau-pulau kecil maka perlindungan perlu diberikan untuk pulau-pulau yang memiliki fungsi khusus, seperti tempat transit fauna, habitat flora dan fauna langka/dilindungi, kepentingan hankam, dan sebagainya.
Agar prinsip keterpaduan pengelolaan pembangunan kawasan pesisir benar-benar dapat diwujudkan, maka pelestarian kawasan lindung pada bagian hulu – khususnya hutan tropis - perlu pula mendapatkan perhatian. Hal ini penting agar laju pemanasan global dapat dikurangi, sekaligus mengurangi peningkatan skala dampak pada kawasan pesisir yang berada di kawasan hilir.

Kebutuhan Intervensi Kebijakan Penataan Ruang dalam rangka Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dalam kerangka kebijakan penataan ruang, maka RTRWN merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk dampak pemanasan global terhadap kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Namun demikian, selain penyiapan RTRWN ditempuh pula kebijakan untuk revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang yang berorientasi kepada pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tingkat kedalaman yang lebih rinci.
Intervensi kebijakan penataan ruang diatas pada dasarnya ditempuh untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut :
  • Mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada kawasan pesisir, termasuk kota-kota pantai dengan segenap penghuni dan kelengkapannya (prasarana dan sarana) sehingga fungsi-fungsi kawasan dan kota sebagai sumber pangan (source of nourishment) dapat tetap berlangsung.
  • Mengurangi kerentanan (vulnerability) dari kawasan pesisir dan para pemukimnya (inhabitants) dari ancaman kenaikan muka air laut, banjir, abrasi, dan ancaman alam (natural hazards) lainnya.
  • Mempertahankan berlangsungnya proses ekologis esensial sebagai sistem pendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati pada wilayah pesisir agar tetap lestari yang dicapai melalui keterpaduan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga ke hilir (integrated coastal zone management).
  • Untuk mendukung tercapainya upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang, maka diperlukan dukungan-dukungan, seperti : (a) penyiapan Pedoman dan Norma, Standar, Prosedur dan Manual (NSPM) untuk percepatan desentralisasi bidang penataan ruang ke daerah - khususnya untuk penataan ruang dan pengelolaan sumber daya kawasan pesisir/tepi air; (b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang, (c) sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public awareness campaig, (d) penyiapan dukungan sistem informasi dan database pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang memadai, serta (e) penyiapan peta-peta yang dapat digunakan sebagai alat mewujudkan keterpaduan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-kecil sekaligus menghindari terjadinya konflik lintas batas.
  • Selanjutnya, untuk dapat mengelola pembangunan kawasan pesisir secara efisien dan efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut :
  • Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir.
  • Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan.
  • Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
  • Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda - untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang ‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders.
Dunia Komputer
GISTECHINDO Updated at: July 21, 2010

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Globalisasi mempengaruhi hampir semua asp nilai nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.
Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).
Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnyateknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.


Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan

  • Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
  • Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
  • Berkembangnya turisme dan pariwisata.
  • Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
  • Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.
  • Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA.
KANG GAWE July 21, 2010 DK Blogger Indonesia
thumbnail

GLOBALISASI

Posted by KANG GAWE on


Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Globalisasi mempengaruhi hampir semua asp nilai nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.
Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).
Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnyateknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.


Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan

  • Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
  • Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
  • Berkembangnya turisme dan pariwisata.
  • Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
  • Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.
  • Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA.
Dunia Komputer
GISTECHINDO Updated at: July 21, 2010

Labels

agama app av browser aplikasi cms design downapp editor global Hosting Ilmu sehat indonesia Internet java karya tulis Komputer linux mp3 obat OS pemrograman pengobatan Sosial network ss Trik Blog tt windows wp

Popular Posts

  • Cara Menghapus Subtitle Bawaan Video atau Film
  • Download MKV Software
  • Cara Aktivasi Windows 7 menjadi Asli permanen
  • CARA MENGGUNAKAN TURBO PASCAL
 

Labels

agama (1) app (27) av (1) browser aplikasi (3) cms (1) design (1) downapp (17) editor (1) global (5) Hosting (3) Ilmu sehat (7) indonesia (7) Internet (19) java (8) karya tulis (1) Komputer (44) linux (8) mp3 (1) obat (5) OS (10) pemrograman (7) pengobatan (7) Sosial network (14) ss (5) Trik Blog (26) tt (14) windows (3) wp (2)

DK Suport

d

Test Footer 2

Test Footer 1

Test Footer

Support : Blog Gado Gado | Indo Media Kita | Gistechindo | Wong Asli Cirebon
Copyright © GISTECHINDO. All rights reserved.
Template Modif by Dunia Komputer
powered by Blogger
Back To Top